Hari Kartini Diperingati Setiap-setiap Tanggal 21 April.

From State of Survival - State 737 Wiki
Jump to navigation Jump to search

Peringatan Hari berdasarkan terhadap tanggal kelahiran pahlawan nasional perempuan, Raden Ajeng Kartini atau RA Kartini.

RA Kartini menjadi sosok yang kondang atas usulannya didalam mencetus emansipasi perempuan di Indonesia.

Pahlawan perempuan kelahiran Jepara ini terhitung menerbitkan karya yang familiar, merupakan buku yang berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang.

Untuk memperingati Hari Kartini, di bawah ini, tersedia 70 kutipan kata-kata arif yang pernah dikemukakan RA Kartini.

Kata-kata bijaksana hal yang demikian berkenaan emansipasi perempuan, pendidikan, perjuangan, hingga cinta.

Baca juga: Hari Kartini 21 April: Berikut Sejarah hingga Biografi RA Kartini

Buku RA Kartini.

Berikut 70 kutipan kata-kata arif RA Kartini, dirangkum dari buku Celoteh R.A. Kartini: pwm center 232 Ujaran Bijak sang Pejuang Emansipasi, karya Ahmad Nurcholish:

1. "Seorang guru bukan hanya sebagai pengasah pikiran saja, melainkan terhitung pengajar budi pekerti."

2. "Tetapi apalah bermakna jago didalam ilmu yang hendak diajarkan itu, bila ia tidak mampu menerangkannya secara tahu terhadap murid-murid."

3. "Gadis yang pikirannya sudah dicerdaskan, panoramanya sudah diperluas, tidak akan mampu lagi hidup di didalam dunia nenek moyangnya."

4. "Kita sanggup menjadi manusia sepenuhnya, tanpa berhenti menjadi wanita sepenuhnya."

5. "Untuk ketika didiklah, kasihlah pembelajaran kepada buah hati-anak perempuan kaum bangsawan: dari sinilah peradaban bangsa seharusnya dimulai. Jadikanlah mereka ibu-ibu yang cakap, cerdas, dan baik. Karenanya mereka akan menyebarluaskan peradaban di pada bangsanya."

6. "Bahwa kebahagiaan perempuan yang paling tinggi, sejak berabad-abad yang lantas apalagi terhitung sampai ketika ini ialah hidup seirama bersama laki-laki."

7. "Rampaslah seluruh harta benda saya, asalkan jangan pena saya."

8. "Pendidikan sekolah bagi buah hati-buah hati terhadap saat sekarang ialah hal yang awam sekali, tetapi bila jumlah si kecil raih 25 orang, bagaimana barangkali pendidikan yang sebaik-bagusnya itu mampu diusahakan bagi mereka segala? Orang tidak berhak melahirkan buah hati apabila ia tak kapabel menghidupinya."

9. "Jika orang hendak sungguh-sungguh memajukan peradaban, maka kecerdasan pikiran dan pertumbuhan budi patut sama-sama dimajukan."

10. "Adalah suatu bantuan dan bantuan besar sekali bagi orang laki-laki sekiranya perempuan berbudi tinggi dan terpelajar."

11. "Ketidaksetaraan perempuan ini pengaruh dari dipegangnya akses perempuan untuk menerima ilmu agar perempuan menjadi bodoh. Sehingga cara cuma satu yaitu perempuan sepatutnya sekolah."

12. "Simpati itu bagi kami yakni kepuasan, daya, bantuan, kegembiraan, dan hiburan."

13. "Dan gadis-gadis lebih-lebih terlampau ada problem hidupnya, sebab mereka telah berada di daerah di mana alam setiap-tiap-tiap hari diperkosa. Bukankah itu memerkosa kodrat alam namanya, kalau perempuan wajib tinggal bersama tentram serumah bersama madunya?"

14. "Sungguh, si kecil bangsa itu sendiri, orang perempuan harus mendengarkan suaranya! Masih akan dapatkah bersama tenang orang mengatakan 'situasi mereka baik' jika orang melihat dan tahu semuanya, yang sudah kami memperhatikan dan kami ketahui itu?"

15. "Dan terhadap pendidikan itu janganlah cuma nalar yang dipertajam, tetapi budi bahkan semestinya dipertinggi."

16. "Seandainya kami menghendaki orang lain ikuti jejak kami, karenanya misal yang kami memberikan haruslah suatu hal yang berdiskusi, menyebabkan rasa takjub dan permohonan untuk menirunya."

17. "Kami si kecil-si kecil perempuan tidak boleh membawa anggapan, kami harus terima dan menyetujui serta mengamini semua yang diakui bagus oleh orang lain."

18. "Banyak emansipasi wanita bukanlah untuk persamaan derajat, emansipasi adalah pembuktian diri yang sesuai pada raga yang tangguh, namun hati selamanya tunduk. Emansipasi tersedia penerimaan. Penerimaan diri bahwa setiap-setiap daerah tersedia empu yang dikodratkan dan dipantaskan."

19. "Saya akan mengajar si kecil-buah hati aku, bagus laki-laki maupun perempuan untuk saling mengamati sebagai makhluk yang sama. Aku akan mengimbuhkan pengajaran yang mirip terhadap mereka, pasti saja berdasarkan bakatnya masing-masing, Lagi pula, aku bermaksud akan menghapuskan batas yang menggelikan pada laki-laki dan perempuan yang diwujudkan orang sedemikian akuratnya."

20. "Pendidikan untuk wanita terlampau penting didalam konteks menolong perannya sebagai istri dan ibu yang berfantasi besar. Melainkan sekiranya tidak benar kaprah dan menelantarkan anak-anaknya, bermakna mirip saja bersama membodoh lagi."

21. "Biarkan orang banyak itu bodoh, maka kekuasaan atas mereka tersedia di tangan kita! Kiranya demikian slogan biasanya pembesar. Mereka tidak bahagia mengamati orang-orang lain terhitung idamkan ilmu dan kemajuan."

22. "Tidak seharusnya penjelasan mengapa kemajuan kepandaian masyarakat Bumiputra tak sanggup pesat, sekiranya didalam hal itu perempuan terbelakang. Tiap ketika kemajuan perempuan itu ternyata yakni aspek penting didalam peradaban bangsa."

23. "Marilah aduhai perempuan, gadis. Bangkitlah, marilah kami berjabatan tangan dan bersamaan berprofesi mengubah kondisi yang tak terderita ini."

24. "Dalam tangan anaklah berlokasi era depan dan didalam tangan ibulah tergenggam buah hati yang yaitu era depan itu."

24. "Jago itu tidak ialah kebahagiaan untuk tiap-tiap-tiap orang. Celakalah jika orang sanggup berpikir tapi tak boleh; seandainya orang sanggup merasa, sanggup dan berharap, tetapi tak boleh. Lebih baik selamanya bodoh saja."

25. "Kami manusia, seperti halnya orang laki-laki. Aduh, berilah izin untuk membuktikannya. Lepaskan belenggu saya! Izinkan saya berperilaku dan saya akan menampilkan, bahwa aku manusia. Manusia seperti laki-laki."

26. "Kecerdasan otak saja tak bermakna seluruh-galanya. Patut tersedia terhitung kecerdasan lain yang lebih tinggi, yang erat terjalin bersama orang lain untuk mengantakan orang ke arah yang ditujunya. Di samping otak, terhitung hati patut diberi pengarahan, bila tidak demikian peradaban tinggal permukaannya saja."

27. "Ikhtiar! Berjuanglah memperbolehkan diri. Jika engkau telah bebas karena ikhtiarmu itu, barulah cakap engkau bantu orang lain."

28. "Bila kami tak melacak pengetahuan, karenanya hidup kami tidak akan bergembira dan kehidupan kami akan makin mundur."

29. "Sebab jikalau taraf hidup kesenian suatu bangsa tinggi, maka budi bangsa itu sendiri adalah suatu puisi."

30. "Habis gelap terbitlah terang."

31. "Tiada awan di langit yang selamanya selamanya. Tiada barangkali akan tetap jelas cuaca. Sehabis malam gelap gulita lahir pagi membawa estetika. Kehidupan manusia mirip alam."

32. "Jangan bangkitkan cita-cita yang pasti akan mati. Janganlah hendak berimajinasi sekiranya lebih pernah telah diketahui nanti akan bangun bersama teramat mengecewakan."

33. "Jangan kamu katakan aku tidak dapat, namun katakan saya berharap."

34. "Kami menyangka kami tahu banyak sekali, tapi hakekatnya kami tak tahu apa-apa. Kami mengira kami membawa harapan, keinginan besi. Kami menduga kami kapabel memindahkan gunung tetapi nyatanya cuma setitik air mata pedih, sekejap pandangan mata duka cita dari mata yang kami sayangi dan patahlah kemampuan kami."

35. "Pergilah, bekerjalah untuk menciptakan cita-citamu. Bekerjalah untuk kebahagiaan ribuan orang-orang tertindas oleh tata tertib yang lalim bersama tahu yang tak benar berkenaan benar dan salah, berkenaan bagus dan jahat. Pergilah, pergilah, tanggunglah derita dan berjuanglah melainkan bekerjalah untuk suatu hal yang abadi."

36. "Dalam hatinya sebab konfrontasi terhadap situasi zaman, jiwanya menjadi matang. Ia tak akan, tidak berkeinginan tunduk. Dia patut menempuh jalanan baru."

37. "Percayalah akan era depan."

38. "Para lanjut usia, jangan menolak seluruh yang baru. Ingatlah, bahwa seluruh yang sekarang sudah tua, terhitung pernah baru."

39. "Ketidaksetaraan inilah yang sebabkan ketidakadilan dan ketidakseimbangan ekonomi."

40. "Bagaimanapun jalannya, sekali-kali jangan penat untuk mengusahakan giat membela segala yang baik."

41. "Kami yakin, jikalau seseorang berani mengawali, banyak yang akan mencontoh."

42. "Angkatan muda, tidak ada pandang laki-laki atau perempuan wajiblah berhubungan. Masing-masing secara sendiri-sendiri mampu berbuat suatu hal untuk memajukan, tingkatkan derajat bangsa kami. Tapi apabila kami bersatu, mempersatukan kesanggupan kami, berprofesi bersama-sama, maka hasil bisnis kami akan lebih besar. Bersatu kami kukuh dan berkuasa."

43. "Kita seharusnya hidup beriringan dan untuk semua manusia. Tujuan hidup kami adalah sebabkan hidup lebih menawan."

44. "Telah jauh dan lama kami mencari, dan kami tiadalah tahu, terlampau dekatnya, selamanya terhadap kami barang yang kami cari itu, tersedia di didalam diri kami sendiri."

45. "Perbuatan saya itu akan lebih banyak menarik hati orang sebangsa saya ketimbang seribu kata ajakan yang bersuka cita-bahagia."

46. "Bagaimana barangkali seorang pria dan wanita kapabel mencintai satu bersama yang lain dikala mereka baru bersua pertama kali didalam kehidupan ini sesudah mereka terikat didalam pernikahan?"

47. "Kita menghendaki untuk dicintai--bukan ditakuti."

48. "Tiada hal yang lebih menawan tidak sekedar mampu menerbitkan senyum di wajah mereka yang kami cinta."

49. "Ketika suatu jalinan usai, bukan bermakna orang berhenti saling mencintai. Mereka hanya berhenti saling menyakiti."

50. "Betapa ganjil sudah ajaibnya rasa kasih sayang itu: tidak mau dipaksa, tidak berkeinginan diikat di mana bahkan juga. Datang tanpa diundang, tak disangka-sangka. Dan bersama sepatah kata saja, tapi sepatah kata yang menjenguk jauh ke didalam kehidupan batin masing-masing. Jauh mengikat dua jiwa yang hingga sekarang belum mengetahui bersama ikatan-ikatan erat!"

51. "Maksud Tuhan terhadap kami yaitu bagus. Hidup ini diberi kepada kami sebagai rahmat dan tidak sebagai muatan, kami manusia sendiri biasanya membuatnya menjadi kesengsaraan dan penderitaan."

52. "Agama mesti menjaga kami dari tingkah laku dosa, namun berapa banyaknya dosa diperbuat orang atas nama agama."

53. "Berharap benar aku menggunakan gelar tertinggi, adalah Hamba Allah."

54. "Kedudukan ibu rohani lebih tinggi dari ibu jasmaniah."

55. "Tugas manusia adalah menjadi manusia."

56. "Harta paling suci di dunia merupakan hati laki-laki yang luhur."

57. "Banyak hal yang kapabel menjatuhkanmu. Tapi cuma satu hal yang terlampau kapabel menjatuhkanmu yakni sikapmu sendiri."

58. "Jangan mengeluhkan hal-hal buruk yang singgah didalam hidupmu. Maha tidak pernah memberikannya, kamulah yang membiarkannya datang."

59. "Teruslah bermimpi, teruslah berimajinasi, bermimpilah sepanjang engkau mampu bermimpi! Apabila tak ada berimajinasi, apakah jadinya hidup! Kehidupan yang sesungguhnya kejam."

60. "Tahukah engkau semboyanku? Saya Ingin! Dua patah kata yang ringkas itu telah sebagian kali membantu dan membawa saya melintasi gunung keberatan dan kesulitan. Kata Aku tidak dapat! Melenyapkan rasa berani. Kalimat "Aku Berharap!" sebabkan kami gampang mendaki puncak gunung."

61. "Lebih banyak kami maklum, lebih kurang rasa dendam didalam hati kita. Kian adil pertimbangan kami dan makin kokoh dasar rasa beri sayang. Tiada mendendam, itulah bersuka ria."

62. "Kadang-kadang, ada permasalahan mesti kamu rasakan lebih-lebih dahulu sebelum akan kebahagiaan yang prima singgah kepadamu."

63. "Jangan pernah menyerah apabila kamu masih idamkan mencoba. Jangan biarkan penyesalan singgah sebab kamu selangkah lagi untuk menang."

64. "Tak hiraukan seberapa keras kau mencoba, kamu tidak akan pernah cakap menyangkal apa yang kamu rasa. Kalau kau sebetulnya berharga di mata seseorang, tak tersedia alasan baginya untuk melacak seseorang yang lebih baik darimu."

65. "Adakah yang lebih hina, daripada bertumpu kepada orang lain?"

66. "Karena tersedia bunga mati, maka banyaklah buah yang tumbuh. Demikianlah pula didalam hidup manusia. Sebab tersedia angan-angan gampang mati, kadangkala timbullah angan-angan lain, yang lebih sempurna, yang boleh menjadikannya buah."

67. "Sebab barang siapa tidak kapabel merasakan sakit, dia terhitung kebal terhadap rasa senang. Barang siapa tidak menderita, tak terhitung cakap merasakan nikmat yang sebenarnya."

68. "Cuma orang-orang yang kuat hati dan pikirannya yang cakap bertahan didalam topan semacam itu, mampu melawan kekejaman dan kekerasan dunia."

69. "Kesadaran anak-anak harus dibangunkan, bahwa mereka seharusnya mencukupi panggilan budi didalam masyarakat terhadap bangsa yang akan mereka kemudikan."

70. "Petani paling baik tak akan memungut padi dari tanah yang tak dijalankannya lebih dulu, sebelum akan menebarkan bibit dan menanam di situ! Tidak akan mampu terhitung ahli bangunan yang paling baik mendirikan gedung tanpa fondasi!"

Kabar lainnya berkenaan Hari Kartini